Paradigma Ilmu Sosial-Ekonomi Profetik sebagai Alternatif Ilmu Sosial dalam Menjawab Krisis Kemanusiaan dan Modernitas

Oleh: Chanifan Ibadi F H

Pengembangan ilmu sosial-ekonomi sangat dipengaruhi oleh perkembangan dunia modern dan tidak lepas dari sifat dasar manusia. Hal yang menjadikan faktor utama dalam mepengaruhi perkembangan manusia adalah ilmu sosial seperti halnya sosiologi, antropologi ataupun psikologi. Oleh karenanya dalam menyeimbangkan sifat dasar manusia dengan seluruh konsep dan teori yang ada, diperlukan suatu medium penunjang keberhasilan manusia untuk terus berkembang serta membutuhkan suatu metode yang benar sesuai dengan norma sosial dan ilmu pengetahuan mendasar demi terwujududnya masyarakat yang adil makmur. Allah SWT telah menurunkan wahyunya melalui perantara Malaikat jibril yang disampaikan pada Nabi Muhammad SAW.

Pengembangan ilmu ekonomi sebagai ilmu sosial yang dibentuk oleh pandangan, perilaku berdasarkan kebutuhan manusia dewasa. Sehingga pandangan manusia telah melahirkan berbagai pemikiran tentang masalah ekonomi serta solusi yang akan menjadikannya sebagai alternatif. Namun demikian, pandangan manusia yang berdasarkan kebutuhan juga tidak diperkenankan mengesampingkan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam. Dalam al-Qur’an disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat 59 :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa : 59)

Dengan demikian internalisasi nilai-nilai ekonomi yang berbasis Islam profetik merupakan suatu formula dalam memperbaiki permasalahan ekonomi dengan basis ekonomi syariah. Sudah semestinya paradigma Islam Sosial profetik mengajarkan dan mengimplementasikan nilai-nilai keteladanan yang sudah di contohkan oleh para nabi dalam menjalankan bidang ekonomi. Tentu solusi dari semua permasalahan sosial ekonomi pasti diinginkan oleh semua sistem ekonomi, baik itu sistem ekonomi dengan paham kapitalis, sosialis dan sistem ekonomi Islam. Akan tetapi dalam sistem kapitalis justru cukup memberikan kebebasan yang relatif besar bagi pelaku-pelaku ekonomi agar dapat melakukan keleluasaan bagi perorangan untuk memiliki sumberdaya, seperti kompetisi antar individu dalam memenuhi kebutuhan hidup, persaingan antar badan usaha dalam mencari keuntungan. Sedangkan prinsip “keadilan” yang dianut sistem kapitalis ini adalah setiap orang menerima imbalan berdasarkan prestasi kerjanya. Dalam hal ini pula campur tangan pemerintah sangat minim, sebab pemerintah berkedudukan sebagai “Pengamat” dan “Pelindung” dalam perekonomian.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Haneef Oliver dalam bukunya “Invasi Barat : Ateis, Liberal, Sekuler, Humanis, Pluralis” mengungkapkan bahwa menurut pandangan Liberal, tidakan (hukum) politeisme terhadap sang Pencipta tidak dianggap sebagai kejahatan. Sebaliknya, mereka menganjurkan politeisme dan menggap orang-orang yang mempraktikkan aharan tersebut sama seperti penganut monoteisme, bahkan mereka lebih baik. Karena, orang-orang yang mengikuti ajaran Nabi dengan meng-Esakan sang Pencipta dalam segala bentuk peribadatan dianggap sebagai orang terbelakang dan sesat.

Terjadinya polemik antara ilmu sosial Barat dengan sosial Islam, mendorong Kuntowijoyo menawarjan sebuah pemikiran ilmu sosial uang dikenal sebagai Ilmu Sosial Profetik (ISP). Melalui ISP tersebut, ia berusaha untuk membangun suatu penjembatan yang mampu menghubungkan antara kecenderungan ilmu sosial sekuler dengan kecenderungan Islamisasi ilmu sosial. Paradigma Ilmu sosial Profetik (ISP) sebenarnya bentuk daripada saintifikasi (pengilmuan) yang dikembalikan pada ajaran Islam yang bersumber dan berdasarkan teologis Islam. Lahirnya padadigma ISP ini terinspirasi dari dua ilmuan besar, sekaligus cendekiawan Muslim yakni (Muhammad Iqbal) dan seorang filosof Prancis (Roger Garaudy).

Kemudian Kuntowijoyo mengusulkan humanisme teosentris sebagai pengganti humanisme antroposentris untuk mengangkat kembali martabat manusia. Dengan konsep ini, manusia setidaknya harus memusatkan diri pada Tuhan, tapi tujuannya adalah untuk kepentingan manusia (kemanusiaan) sendiri. Perkembangan peradaban manusia tidak lagi diukur dengan rasionalitas tapi transendensi. Humanisme diperlukan karena adanua masyarakat yang sedang berada dalam tiga keadaan takut yaitu dehumanisasi (obyektivikasi teknologis, ekonomis, budaya dan negara), agresivitas (agresivitas kolektif dan kriminalitas) dan loneliness (privatiasi, individuasi). Adapun penjelasan terkait tiga unsur fundamental paradigma ilmu sosial profetik akan diuraikan sebagai berikut.

Pertama, humanisasi. Nilai humanisasi merupakan salah satu pondasi paradgigma Ilmu Sosial Profetik (ISP) yang berlandaskan dari ajaran islam berupa amar ma’ruf (menegakkan kebenaran). Menurut Abdul Karim Syeikh, meski term ma’ruf seringkali dimaknai suatu kebijakan, sejatinya mempunyai arti yang cukup bervariasi, diantaranya yakni keutamaan, kebenaran, keadilan, kelayakan, pantas, patut dan bakti. Dalam ide corak humanisme teoantroposentris, Kuntowijoyo berupaya untuk memprioritaskan kembali kesadaran manusia untuk lebih memusatkan diri kepada Tuhan, dengan tetap fokus terhadap orientasi kemaslahatan hidup manusia. Melalui pandangan tersebut, peradaban manusia tentu tidak hanya diukur menggunakan kadar rasionalitas, melainkan juga memfokuskan terhadap nilai transendensi yang bersumber dari ajaran agam (Islam).

Kedua, adalah liberasi. Liberasi merupakan nilai di dalam unsur paradigma ISP yang bersumber dari pemaknaan kreatif terhadap ajaran Islam yang berupa nahi munkar yakni mencegah kemunkaran. Liberasi dalam ilmu ekonomi profetik sesuai dengan prinsip sosialisme (marxisme, komunisme, teori ketergantungan, teologi pembebasan). Akan tetapi ilmu ekonomi profetik tidak berkehendak menjadikan liberasinya sebagai ideologi sebagai komunisme. Liberasi ekonomi profetik adalah dalam konteks ilmu, ilmu yang didasari nilai-nilai luhur transendental. Jikai nilai-nilai liberatif dalam teologi pembebeasan dipahami dalam konteks ajaran teologis, maka nilai-nilai liberatif dalam ilmu ekonomi profetik dipahami dan didudukkan dalam konteks ilmu sosial yang memiliki tanggung jawab profetik untuk membebaskan manusia dari kekejaman dan kemiskinan, perampasan kelimpahan, dominasi struktur yang menindas dan hegemoni kesadaran palsu. Lebih jauh, jika Marxisme dengan semangat liberatifnya justru menolak agama yang dipandangnya konservatif, padahal ilmi ekonomi profetik justru mencari landasan semangat liberatifnya pada nilai-nilai profetik transedental dari agama yang telah ditransformasikan menjadi ilmu yang obyektif serta faktual.

Ketiga, ilmu ekonomi profetik adalah transendensi. Nilai ini berlandaskan pada ajaran Islam yang berupa perintah terhadap keimanan. Pada konteks transendensi, berbagai nilai keimanan dalam ajaran Islam menjadi hal pokok yang digunakan sebagai basis pembangunan peradaban sosial umat manusia. Transendensi dalam pandangan Kuntowijoyo merupakan dasar dari dua unsur yang lain. Transendensi di artikulasikan dari tu’minuna bi Allah (beriman kepada Allah). Transdenensi memiliki tujuan menjadikan nilai-nilai transedental (keimanan) sebagai bagian penting dari sebuah proses membangun peradaban. Transedensi menempatkan agama (nilai-nilai Islam) pada kedudukan yang sangat sentral, dalam ilmu ekonomi profetik. Ekses-ekses negatif yang ditimbulkan oleh modernisasi mendorong terjadinya sebuah gairah untuk menangkap kembali alternatif-alternatif yang ditawarkan oleh agama untuk menyelesaikan persoalan tentang manusia. Manusia sebagai produk dari renaissance adalah manusia antroposentris yang merasa menjadi pusat dunia, cukup dengan dirinya sendiri. Melalui proyek rasionalisasi, manusia memproklamirkan dirinya sebagai penguasa dari diri dan alam raya. Rasio bukan cara hidup melainkan cara berpikir. Rasio menciptakan alat-alat bukan kesadaran. Rasio mengajari manusia manusia untuk menguasai hidup, bukan memaknainya. Dan sudah seharusnya manusia berhasil memanusiakan manusia, menguasai hidup beserta maknanya, sehingga berhasil menjadi manusia seutuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *