
Oleh: M. Agung Santoso
(Peneliti Sosial dan Politik Lokal)
“Tak kenal maka tak sayang” — kata peribahasa lama,
Kenal dalam konteks politik praktis tentu memiliki “makna” tersendiri. Mengenal bukan
sekadar tahu nama dan wajah, tetapi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan
masyarakat kampung itu sendiri. Dalam konteks pemilihan umum (pemilu), baik di level
presiden, gubernur, bupati, DPR, kades, bahkan RT dan RW, ada “dalang” yang sebenarnya
memegang nadi demokrasi yang lolos dari sorot kamera media dan diktat akademisi. Entitas
itu bernama AKAMSI alias anak kampung sini, yakni politik hiper-lokal di tingkat RT, RW,
dan kelurahan. Akamsi sekelas “godfather lokal” yang memiliki dan mampu mengkapitalisasi
identitas, jaringan, dan strateginya berakar sangat dalam di komunitas terkecil.
Kekuatan Tak Terlihat
Dalam penelitian Aspinall & Fossati (2020), politik personal berbasis kedekatan asal daerah
dan hubungan kekerabatan masih sangat dominan dalam pemilu legislatif Indonesia.
Kekuatan utama Akamsi terletak pada modal sosial yang tak tergantikan; mereka adalah
bagian dari jaringan kekerabatan, pertetanggaan, dan budaya lokal yang telah terjalin puluhan
tahun. Hal terlihat jelas ketika framing “putra daerah” atau “anak kandung desa” memiliki
daya pikat alami yang sulit ditandingi kandidat politik pendatang. Praktik gaya politik
Akamsi jadi menarik yang terekam dalam penelitian saya yang menceritakan bahwa
“bingkisan situasional” alias bantuan yang diberikan tepat pada momen kerentanan warga,
seperti ketika warga mengalami sakit atau musibah, mampu menarik simpati. Strategi ini
membuat bantuan terasa sebagai “pertolongan saudara”, bukan transaksi politik vulgar yang
orientasinya “uang cair” seperti strategi pada umumnya.
Demikian secuplik strategi “rahasia” Akamsi dalam mengontrol denyut nadi konstituen di
tingkat hiper-mikro sekelas RT dan RW yang terbukti efektif. Barang tentu masih terlampau
banyak rahasia-rahasia lain yang masih saya simpan dalam database “strategi politik lokal
Akamsi” yang mungkin akan saya bagikan dalam tulisan-tulisan mendatang.
Akamsi sebagai Realitas Politik Indonesia
Gaya politik Akamsi, dengan segala kompleksitasnya, adalah cermin dari demokrasi
Indonesia yang hidup di tingkat akar rumput. Ia mengingatkan kita bahwa di balik wacana
politik nasional yang sering terasa jauh, pertarungan elektoral yang sesungguhnya justru
terjadi dalam interaksi sehari-hari, di warung kopi, pertemuan RT, acara pengajian, dan
upacara adat.
Memahami gaya politik Akamsi tak bisa dengan logika akademik yang muluk-muluk, atau
hanya dengan “transaksional sporadis”. Memahami Akamsi dalam perjalanan saya menjadi
mitra politik lokal, ternyata harus dengan menjadi bagian dari mereka dalam kehidupan
sehari-hari secara tulus tanpa dibuat-buat. Karena dalam syair yang dinisbatkan kepada
A’lamin Nubala:
“Sesuatu yang keluar dari hati, akan masuk pula ke dalam hati.”
